Komunitas

Sketcher: Menggambar Membawa Bahagia

Author: Rahmi Hidayati, 13 Feb 2019 15:10 Wib

Sketcher: Menggambar Membawa Bahagia

Pada dasarnya menggambar atau membuat sketsa tak ubahnya memotret sebuah obyek menggunakan kertas dan pena atau pinsil. Membuat sketsa merupakan kegiatan yang bisa memberikan rasa tenang. Perhatian pada obyek yang sedang digambar seakan menjadikan kita melupakan sejenak segala hiruk pikuk yang terjadi di sekitar kita.

Saya tergabung di komunitas Bogor Sketcher diawali ketika melihat anak gadis saya senang sekali menggambar manga. Gambar tokoh dalam anime yang sering dilihat baik di komik atau film kartun sudah menginspirasi anak dan menuangkannya di atas kertas. Menggambar seperti menghipnotis dia untuk menghabiskan waktu dari hari ke hari. Menyendiri di sudut ruang atau kamar, seolah merupakan keasyikan tersendiri. Dan rupanya setelah berbincang dengan beberapa kawan orangtua, kegemaran ini cukup mewabah di kalangan anak muda.

Pengaruh komik dan film kartun Jepang sangat kuat untuk menumbuhkan bakat yang tak terduga ini. Walau saya merasa senang dengan bakat yang muncul, namun saya memiliki “kekhawatiran” terhadap kesenangan dia untuk menyendiri sehingga kurang bersosialisasi dengan lingkungan. Maka saya berusaha mencari kawan kawan atau komunitas yang memiliki hobi serupa supaya dia dapat belajar dari kawan kawan yang lain terutama yang sudah lebih ahli di bidang menggambar ini.

Ketika saya mendapati bahwa ternyata di Bogor ada komunitas Bogor Sketcher, dengan segera saya bergabung dan mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas tersebut. Tujuan awalnya memang untuk menemani anak agar bisa belajar dari para senior. Ternyata saya tiba tiba tergerak untuk ikut menggoreskan pinsil dan pena saat melihat obyek yang menarik hati. Sejak itu saya mulai suka mengikuti kegiatan yang dilakukan namun tidak terlalu intens karena waktu yang tak memungkinkan.

Goresan demi goresan seperti menghipnotis saya tidak berpaling ke urusan yang lain ketika saya melihat sebuah obyek yang sangat menarik perhatian, dimanapun saya berada. Terkadang saya langsung membuat sketsa di tempat sehingga sata merasa cukup puas dengan ganbar yang saya buat, terkadang saya memotret dulu untuk saya gambar di rumah. Menggambar atau membuat sketsa tak ubahnya seperti meditasi dalam bentuk lain dan menghasilkan sebuah karya.

Saya perhatikan di komunitas Sketcher, ternyata perempuan menjadi minoritas. Pada umumnya sebagian besar laki-laki. Entah kenapa. Sedangkan kemampuan atau bakat menggambar sejatinya tidak mengenal diskrimasi gender. Saya yakin menggambar atau membuat sketsa merupakan kemampuan yang bisa dilatih kepada siapa saja. Saya teringat kata Dik Doank, seniman yang mendirikan Kandank Jurang Doank dan mengajar anak anak sekitar berlatih menggambar. Bahwasanya menggambar merupakan kemampuan dasar yang perlu dimiliki oleh banyak seniman atau perupa seperti misalnya desainer pakaian, arsitek, pematung, pembuat mebel dan banyak lagi yang lainnya. Semua ketrampilan tersebut membutuhkan kemampuan dasar menggambar! Maka pastinya tak ada pembatasan baik laki-laki maupun perempuan. Maka pastinya semua orang bisa mengembangkan kemampuan menggambar.

Ada beberapa kawan perempuan yang saya dapati mengasah kemampuan menggambar karena alasan melepas stess dan tekanan batin yang sedang mendera. Mereka belajar secara khusus dengan mengambil kursus pada pelukis yang sudah berpengalaman. Menggambar atau membuat sketsa sudah “naik kelas” menjadi media untuk mengekspresikan perasaan yang sedang gundah gulana. Tak perlu melihat hasil menggambarnya baik buruk di mata pemerhati. Sebuah gambar memiliki makna tersendiri bagi pemiliknya. Goresan dan warna yang tertuang merupakan energi yang indah dan melegakan. Bila ada orang yang mengatakan tak mampu menggambar, sesungguhnya hanya dirinya sendirilah yang membatasi potensi sehingga merasa tak punya kemampuan dengan berbagai alasan.

Penulis: Sitawati Ken Utama