Gaya Hidup

Menjadi Pemilih Bijak dan Cerdas

Author: Rugadi, 12 Feb 2019 11:55 Wib

Menjadi Pemilih Bijak dan Cerdas

Pemilu yang akan berlangsung tanggal  17 April 2019 nanti merupakan pesta demokrasi, perayaan demokrasi. Dalam pesta demokrasi itu rakyat akan memilih wakil-wakilnya di Parlemen sekaligus memilih Presiden dan Wakil Presiden untuk masa bakti 5 tahun mendatang.

Sayangnya, pesta demokrasi yang semestinya dirayakan dengan kebahagiaan justru tidak demikian. Jauh sebelum masa kampanye, saling serang dan hujat antara  pendukung dua capres, Joko Widodo – Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno sudah ramai terlebih di media sosial. Semakin ramai dan panas di masa kampanye dan akan   lebih memanas menjelang tanggal 17 April.

Masyarakat pun terpecah menjadi dua kubu. Hubungan pertemanan bahkan persaudaraan banyak yang retak akibat beda pilihan politik. Fenomena unik dalam pemilu kali ini adalah, seseorang dengan mudah unfriend temannya di media sosial seperti di Facebook dan instagram karena beda pilihan. Tidak itu saja, seseorang bisa left grup dalam WA Grup.  Left grup bukan hanya dalam WAG pertemanan tetapi juga dalam WAG keluarga.

Lalu bagaimana  kita kaum perempuan menyikapi kondisi seperti itu termasuk membanjirnya berita-berita hoax?

Kita harus hati-hati menggunakan hak suara.  Gunakan akal sehat dan hati nurani  untuk memilih pemimpin yang baik dengan mengenali latar belakang calon. Kita harus tahu rekam jejak, prestasi dan sifat-sifat calon. Pepatah Inggris mengatakan,  Past behaviour lead to the future behaviour; kelakuan, kebiasaan masa lalu akan menuntun/mempengaruhi  kelakuan masa depan. Apalagi bila punya kekuasaan .

Selain itu kenali/cari tahu juga partai-partai pendukung capres – cawapres baik ideologi maupun programnya. Demikian juga kita harus tahu ideologi organisasi massa yang mendukungnya.  Saat ini isu agama dijadikan komoditas politik untuk mendukung maupun mendiskreditkan salah satu calon.

Kita juga harus bijak melihat postingan di Media Sosial yang semakin menggila. Dengan mudah dan cepat, ratusan akun palsu dibuat untuk menjelekkan pesaing dan menaikkan pamor capres yang didukung. Belum lagi video editan bahkan video yang dipotong untuk tujuan kepentingan  mendukung maupun mendiskreditkan pesaingnya.

Sekarang portal berita sangat banyak dan gencar melansir berita-berita bombastis yang menyerang atau menaikkan pamor salah satu calon. Untuk itu saat membaca postingan berita di media sosial, ada baiknya melihat dan membandingkan dengan portal berita atau media yang memiliki reputasi dan kredibilitas.

Dalam kondisi seperti itu, tentu sangat diharapkan bahwa kaum perempuan ambil bagian untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini dari perpecahan akibat persaingan politik. Suara perempuan sangat signifikan. Berdasarkan data KPU, jumlah pemilih perempuan 96.557.044 orang baik di dalam dan luar negeri. Jumlah ini lebih banyak sekitar 126 ribu dibanding pemilih pria yang  berjumlah 96.271.476. Total jumlah pemilih 192.828,520 orang. (bisa dibuat table)  Berarti suara perempuan sangat besar dan signifikan menentukan arah negara melalui Pemilu.

Hingar bingar pemilihan capres nyaris melupakan bahwa Pemilu juga memilih  575 anggota DPR, 136 anggota DPRD dan anggota DPD. Seperti halnya memilih Capres & Cawapres, kita juga harus mengetahui betul rekam jejak calon anggota DPRD DPD.  Karena banyak juga calon legislatif mantan napi koruptor. Pasalnya anggota dewan ini bertugas  membuat aturan dan UU yang mengatur kepdentingan rakyat banyak dalam berbagai bidang. Jangan sampai mereka membuat UU untuk kepentingan kelompoknya, golongannya, partainya saja dan mengabaikan kepentingan rakyat banyak.