Komunitas

Tsunami Selat Sunda Dan Kesedihan Yang Masih Terasa

Author: Rahmi Hidayati, 13 Feb 2019 23:24 Wib

Tsunami Selat Sunda Dan Kesedihan Yang Masih Terasa

 

 

Matahari bersinar terik pagi itu. Langit biru dihiasi awan putih yang bergerak perlahan ke arah Timur. Indah luar biasa. Tak terlihat tanda-tanda bahwa tsunami telah memporak-porandakan puluhan rumah di Kampung Paniis, Desa Taman Jaya, Kabupaten Pandeglang ini.

 

Keindahan itu tak tergambar sepenuhnya di wajah anak-anak SDN Taman Jaya 2. Kendati mereka ikut menyanyi dengan suara lantang dan bertepuk tangan saat lagu selesai dinyanyikan, cahaya yang memancar dari mata mereka menunjukkan rasa yang berbeda.

 

“Sebagian anak-anak di sekolah ini memang terdampak tsunami. Ada 20-an rumah yang hancur dan rata dengan tanah di Kampung Paniis yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari sini,” kata bu Wati, guru di sekolah tersebut.

  

Menurutnya, kekhawatiran berulangnya kejadian pada 22 Desember 2018 lalu itu terus menghantui masyarakat Taman Jaya, termasuk anak-anak sekolah. Di malam hari, mereka mengungsi ke rumah saudara atau kenalan yang terletak di kawasan pebukitan. Pagi hari baru mereka turun ke rumah mereka yang terletak di dekat pantai.

Yang rumahnya hancur, lebih memilukan lagi. Mereka akan mendaki di malam hari, dan turun ke tenda atau tempat pengungsian di pagi hari. Tak banyak yang bisa dilakukan selain tak berdaya memandangi puing-puing yang berserakan. Tak hanya itu, penduduk yang rumahnya berjarak 100-an meter dari bibir pantai pun masih panik kalau malam hari ada suara motor mengarah ke atas bukit.

“Di pikiran mereka, air laut naik lagi sehingga orang-orang yang tinggal dekat pantai melarikan diri ke bukit dengan mengendarai motor. Padahal motor itu hanya kebetulan lewat aja,” kata Wati. Ah, rupanya trauma masih melekat di dada mereka.

Adalah relawan Mapala UI yang berupaya berbagi keceriaan dengan anak-anak SD ini. Mereka diajak berdoa, bernyanyi bersama, dan melepaskan rasa di dada melalui gambar aneka warna yang mereka goreskan di atas kertas. Beberapa anak minta izin untuk menggambar di pinggir pantai. Ada yang menyelesaikan tugasnya dengan baik, ada pula yang hanya melamun memandang ke laut dengan tatapan kosong.

 

Tsunami yang melanda Selat Sunda ini sebenarnya bukan sesuatu yang tergolong dadakan. Sepuluh hari sebelumnya Badan geologi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sudah mendeteksi adanya erupsi di Gunung Anak Krakatau.

BMKG juga mendeteksi kolom abu yang mengarah ke utara, yang mencapai ketinggian 738 meter di atas permukaan laut atau 400 meter di atas puncak gunung. Kondisi ini membuat badan tersebut memberi peringatan dini tentang potensi gelombang tinggi yang berlaku 22 Desember pukul 07.00 hingga 25 Desember 2018 pukul 07.00 WIB. Diperkirakan ketinggian gelombang mencapai 2,5 meter.

Menjelang pkl. 21.00 terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau. Longsor seluas 64 ha tersebut memicu naiknya air laut bahkan melampaui tinggi pohon kelapa. “Paman suami saya tersangkut di atas pohon kelapa karena terseret air laut,” kata Wati.

Banyak kesedihan yang masih dirasakan masyarakat korban tsunami. Namun banyak juga pelajaran yang bisa diambil, antara lain mengenai perlunya membuat sistem penyebaran informasi bencana yang terukur dan dapat dipercaya. Dengan adanya peringatan dini yang baik, berbagai risiko tentunya dapat lebih diminimalisir.***